Banjarmasin, Media Warta Arista. Com. Proyek drainase diperkotaan kawasan cempaka raya kini menjadi sorotan tajam publik, di keluhkan warta karena tak kunjung rampung dan terkesan mangkrak, Inspektorat Kota Banjarmasin turun langsung ke lapangan untuk melakukan peninjauan.
Hasilnya mengejutkan. Hingga dilakukan pengecekan pada Selasa (30/12/2025), progres fisik proyek tercatat baru mencapai 55 persen, sementara masa kontrak seharusnya berakhir pada 29 Desember 2025. Kondisi ini memperkuat keresahan warga yang merasa aktivitas mereka terganggu akibat proyek yang belum juga selesai.
Inspektur Kota Banjarmasin, Dolly Syahbana, menegaskan bahwa secara administrasi pekerjaan tersebut telah melewati batas waktu kontrak awal.
“Secara kontrak, pekerjaan ini harus selesai pada 29 Desember 2025. Namun di lapangan progresnya baru sekitar 55 persen. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi kami,” ujar Dolly.
Meski demikian, Inspektorat masih memberikan perpanjangan waktu selama 30 hari kepada pihak pelaksana untuk menyelesaikan sisa pekerjaan. Namun Dolly mengingatkan, toleransi tersebut memiliki batas tegas.
“Kami sudah memberikan kesempatan melalui perpanjangan kontrak 30 hari. Jika tetap tidak selesai, maka kontrak akan diputus dan pelaksana dikenakan denda sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Proyek drainase ini diketahui menelan anggaran sekitar Rp400 juta yang bersumber dari APBD Kota Banjarmasin. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Adiva, dengan kontrak dimulai pada 20 November 2025 dan durasi pengerjaan selama 40 hari kalender.
Namun realisasi di lapangan dinilai jauh dari target. Galian yang masih terbuka, pemasangan material yang belum tuntas, serta minimnya aktivitas pekerja di lokasi memicu kekecewaan warga sekitar. Bahkan, kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sebelumnya, hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang Drainase Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Harwita Oktania, belum memberikan keterangan saat dikonfirmasi.
Namun belakangan, Harwita menyampaikan penjelasan terkait keterlambatan proyek tersebut. Ia menyebut progres sebenarnya sudah mendekati 75 persen, meski belum dilakukan pembayaran secara keseluruhan.
“Perhitungan terakhir sekitar 75 persen, tetapi memang belum kita bayarkan secara penuh. Kendalanya antara lain antrean ready mix, faktor cuaca, serta keterlambatan penyedia dalam hal ketersediaan sumber daya,” ujarnya mengatakan.

0 Komentar